Rabu, 01 Oktober 2008

Motivation Strategy For Achieving A High Perfotmance Organization

Motivation is an organization's life-blood; yet "motivation," as a business subject, is largely ignored. Even when not ignored, it certainly is not a focal point for strategic thinking.

Seldom is a clear, coherent, and overall approach taken to the challenge of motivating people. Most organizations don't give it much thought until something starts to go wrong. Pain gets people's attention.

Four reasons explain this fact of life:
1. Motivation is intangible.
2. Motivation drives all human action. It is the energy source.
Those seeking to shape the behavior ultimately wrestle with motivation.
3. With a bit of work, we can intuit our own motivation and monitorits shifting nature and
intensity. But we can only observe and measure the motivation of others indirectly.
4. Motivation is lost in a twilight zone.

Like a pop-up fly ball which drops to the ground between a couple of confused fielders, motivation can fall into cracks. Everyone has an interest in motivation, but few, if any, know who is responsible for mapping the overall game plan.

Motivation is hidden beneath a slew of disconnected plans and initiatives

One department may buy or invent a passel of programs or special initiatives -- such as bonus plans, leadership training, participative management and employee ownership that are meant to improve employee motivation. But in most companies, these programs and initiatives are implemented as the need is felt or the impulse strikes.

Motivation, as a subject, is lost in the hoopla of fads du jour

From time to time, management becomes enamored with an idea that is trumpeted by consultants. The idea usually has merit, but is never the 'silver bullet' that people expect it to be: a one-size-fits all solution to every management woe. As the "new idea" (often old wine in new bottles) captures attention, the hype ignites enthusiasm. In time, expectations far outdistance anything the "idea" can deliver. Disillusionment sets in; the fad fades fast, and motivation wanes.

Economic Rewards

Money is a primary motivator. While base salary remains the largest share of the total cash pie, cash incentive plans continue to grow in popularity. Special achievement incentive rewards, spot bonuses, and cash-equivalent rewards all play a role in the economic reward package. In many companies, stock-based incentive plans, once limited to top executives, are offered to all employees. We are seeing an explosion of creative ideas in the realm of economic rewards, although not all approaches motivate people.

Promotions and Transfers

While having economic value, promotions also carry crucial social and psychological meaning (recognition and sense of accomplishment) that, for many, far outweigh additional money or perquisites.

Formal, Psychic Rewards

These rewards have symbolic significance. They spotlight individual or team achievement and outstanding contribution, giving people high-visibility recognition that tends to be warmly remembered years after the event.

Informal Psychic Rewards

Positive feedback from a person's manager, peers, subordinates and others has a profound impact on motivation. Such informal psychic rewards are more than after-the-fact reinforcement; they are also an incentive that people seek to feel appreciated for what we do and who we are -- our unique abilities, skills and knowledge.

Opportunity to Grow

The chance to improve one's self is an enormously important source of motivation. Organizations that offer this advantage are in a win-win partnership with their employees. The company creates and maintains a talented workforce to use as a competitive weapon, and the employees sharpen their own competitive edge as they self-actualize. Talk about synergy!


Leaders inspire people through their words and actions. By presenting a clear sense of purpose, offering a vision worth striving toward, and providing encouragement, leaders have the power to imbue people with hope, enthusiasm and determination.


Goals are powerful motivators. Goals give people a clear sense of what is expected of them, offering challenge and opportunity. They can energize and inspire exceptional effort.

Challenging and stimulating work

The nature of work as a source of motivation varies with personality. For some, detailed work involving technical tasks can be a turn-on; for others, fast-paced work with changing goals, roles and challenges is their dream job. But whatever the person-job match, the work itself proves every bit as important a motivator as economic rewards.


Freedom to take action, to make decisions, to work independently, is one of the factors most valued by people. Autonomy is crucial to achieving a sense of self-worth. Autonomy strongly influences the decision of individuals to join and stay with an organization.


Many work places are woefully devoid of smiles and laughter, yet a bit of humor goes a long way toward brightening the day and infusing spirit into the culture. Fun plays a vital role in motivation.

Implementing FOREMOST[TM] requires a top management team to outline the motivation strategy. Human resources plays a key role by facilitating the process and providing technical guidance.

The process of implementation begins with an audit of all programs that have a direct bearing on motivation. Audit findings are compared with the organization1s needs, expectations and goals. Problem areas are identified and a plan of action is developed. The plan presents a strategic approach to motivating the total organization and draws upon the options that can be mobilized.

Originally published in the July, 1999 edition of Executive Excellence: The Magazine of Leadership Development, Managerial Effectiveness, and Organizational Productivity


Salah satu tulang punggung penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada era otonomi daerah adalah sektor kepariwisataan, mengingat sektor inilah yang sangat potensial menghasilkan pendapatan yang besar karena sifatnya yang multisektoral dan multi-effects. Dengan berkembangnya sektor kepariwisataan akan mendukung income generating dari pelbagai sisi mulai dari retribusi masuk obyek wisata, pajak hotel dan restoran, perijinan usaha pariwisata, di samping juga menyerap tenaga kerja baik dari sektor formal maupun informal. Mengingat demikian strategisnya posisi pengembangan sektor pariwisata maka developmental-planning-nya penting untuk dipikirkan.Pemalang adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi wisata cukup berlimpah dan bervariasi. Obyek wisata di Pemalang dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu wisata alam serta wisata budaya.
Paparan ini merupakan urun rembug bagi Pemerintah Kabupaten Pemalang, khususnya dalam mengelola potensi kepariwisataan sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan formulasi kebijakan yang akan ditempuh nantinya, serta peluang dan tantangan apa yang menghadang.Untuk menempuh kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan tentunya sangat penting untuk mengetahui peta kondisi kepariwisataan Pemalang yang ada saat ini. Oleh sebab itu perlu dibahas beberapa faktor eksternal, internal, peluang dan hambatan, sehingga memudahkan policy makers memformulasikan kebijakannya.Tahap evaluasi ini adalah yang pertama perlu dilakukan untuk memetakan problematika yang dihadapi Pemalang dalam bidang kepariwisataan dari lingkungan internal. Dari perspektif publik tampak bahwa ada beberapa pekerjaan rumah yang perlu dipecahkan berkaitan dengan kondisi internal pengembangan kepariwisataan di Pemalang, yaitu:
Pertama, Implementasi kebijakan pengembangan obyek wisata yang belum optimal dilakukan, kendati potensi cukup tersedia.
Kedua, strategi promosi wisata yang cenderung masih konvensional.
Ketiga, pelayanan dalam arti luas kepada wisatawan yang masih kurang terutama dalam pengamalan Sapta Pesona dari stake holders di bidang pariwisata khususnya.
Keempat, masih relatif lemahnya koordinasi antara pelaku pariwisata, Pemerintah Daerah dan pihak terkait.Tahap berikutnya adalah evaluasi faktor eksternal yang menunjukkan bahwa seiring belum pulihnya citra negatif negara kita di mata dunia internasional, khususnya dalam aspek keamanan dan kenyamanan, dunia pariwisata nasional mengalami penurunan wisatawan internasional yang cukup substantif, meskipun pada tataran wisatawan domestik cenderung tak terpengaruh. Kemudian wacana obyek wisata kumuh merupakan hambatan potensial kedatangan wisatawan. Setelah mengetahui peta kelemahan dari faktor eksternal dan internal tersebut, maka perlu pula dirumuskan tentang peluang dan hambatan yang potensial muncul.
Adapun sejumlah peluang dan hambatan yang ada antara lain:
Pertama, kebijakan Otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32/2004 membuka peluang bagi daerah untuk mengoptimalkan sumberdaya yang dimilikinya. Di samping itu, peluang kerjasama antar daerah maupun dengan luar negeri pun dimungkinkan sebatas tidak mengganggu integrasi nasional. Dengan demikian sebenarnya Daerah memiliki kesempatan terbuka untuk mengembangkan sektor kepariwisataan, mulai dari perencanaan, penetapan peraturan kepariwisataan sesuai dengan potensi diri serta penetapan perjanjian kerjasama dengan daerah/kota di dalam negeri bahkan dengan kota lain di luar negeri. Sister city adalah salah satu bentuk perwujudannya. Namun yang paling utama adalah perlu penyiapan Sumberdaya manusia yang handal untuk mewujudkan kerjasama tersebut.
Kedua, Pemalang memiliki variasi obyek wisata yang beragam mulai dari obyek wisata alam dan budaya yang sangat potensial untuk mendatangkan wisatawan.Ketiga, posisi Pemalang yang belum merupakan daerah tujuan wisata yang cukup dominan (sering tidak terdapat dalam peta) sangat tidak menguntungkan untuk menarik wisatawan karena obyek – obyek wisata yang ada belum begitu dikenal, disamping belum tertata secara optimal baik dari segi fisik maupun manajemennya.
Keempat, sebagai kabupaten yang dikelilingi sejumlah Obyek Wisata ternama di Kabupaten tetangga (Guci di Kab. Tegal dan Owa Bong di Kab. Purbalingga) belum dapat memanfaatkan secara optimal Jalur Wisata Terpadu Lintas Regional (Tourism Cluster)
Dan tantangan utama yang muncul adalah potensi persaingan yang semakin terbuka dengan daerah lain pada era global ini untuk memperebutkan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara yang relatif tak terpengaruh krisis. Oleh sebab itu sangat dibutuhkan strategi untuk mengembangkan kepariwisataan di Pemalang agar dapat bersaing dengan daerah lain.Ada beberapa pemikiran yang dapat dijadikan pertimbangan guna memajukan kepariwisataan di Pemalang.
Pertama, berkaitan dengan implementasi kebijakan pengembangan pariwisata yang belum optimal, perlu ditindaklanjuti dengan studi pengembangan obyek wisata yang saat ini tengah dibangun dengan dana Milyaran rupiah yaitu Water Boom Widuri. Dengan kata lain, keterlibatan stake holder pariwisata dalam menentukan arah dari Pembangunan Water Boom Widuri perlu dioptimalkan. Hal ini memang harus dilakukan, karena Sektor Pariwisata mempunyai multiplier effect yang sangat luar biasa bagi perkembangan ekonomi suatu daerah. Proposal / Usulan yang sudah pernah diajukan oleh kami maupun barang kali stake holder yang lain perlu dipertimbangkanKedua, berkaitan dengan masih konvesionalnya cara-cara promosi yang dilakukan selama ini seperti penerbitan bahan cetak baik booklet maupun leaflet, promosi tatap muka baik dengan model pameran maupun travel dialogue, serta promosi melalui media massa, ada baiknya mengikuti kemajuan jaman dengan membuka Situs Pariwisata Kabupaten Pemalang di dunia maya/internet tanpa mengesampingkan cara-cara sebelumnya.Sebagai contoh Yogyakarta, selain merangkul stake holder pariwisata juga telah merangkul para blogger. Komunitas dunia maya yang tumbuh bersama kemajuan teknologi internet itu dinilai memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap kondisi sosial sekitarnya. Kepedulian itu terbukti dari kebiasaan memasang tautan ke situs-situs yang memuat informasi menarik dan visi sosial tertentu. Didukung aktivitas blogger dalam menjalin persahabatan dan berbagi informasi, informasi itu diharapkan dapat tersebar secara cepat dengan jangkauan luas. Dengan demikian, semakin banyak calon wisatawan yang mengetahui tempat-tempat menarik di Wilayah Pemalang dan terdorong untuk mengunjunginya.
Di era good governance sekarang ini, model pelayanan publik yang kurang nyaman, bertele-tele, lamban apalagi dengan muka masam, sudah selayaknya ditinggalkan. Oleh karena itu menjadikan Sapta Pesona pariwisata ( aman, nyaman, indah, tertib, bersih, ramah-tamah dan kenangan) sebagai pedoman insan pelaku pariwisata harus dimulai dari keteladanan para birokratnya. Berikutnya, untuk meningkatkan kunjungan wisnus ke Pemalang, maka perlu diversifikasi produk wisata untuk tetap menjaring kunjungan wisnus tersebut. Misalnya dengan mengadakan event yang menyorot perhatian publik, khususnya anak muda di obyek wisata tersebut seperti parade

seni budaya, musik, moto-cross dan sebagainya. Guna menjawab satu tantangan besar yaitu semakin terbukanya persaingan antar daerah dalam menarik kunjungan wisatawan, maka perlu ditempuh beberapa upaya, antara lain pembentukan Tourism Cluster dengan Kabupaten / Kota tetangga. Di jaman yang serba transparan sekarang ini sebaiknya bekerjasama dalam rangka kompetisi sehat. Langkah pertama, rumuskan rambu-rambu, aturan dan bentuk kerjasama yang disepakati bersama, kemudian tuangkan dalam nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang ditandatangani Kepala Daerah. Apakah Kabupaten Pemalang telah masuk ke dalam JAVA PROMO, Yaitu Kerjasama Pariwisata antara 14 Kab/Kota di Jawa Tengah-DIY?
Akhirnya, harus disadari bersama seperti di awal tulisan ini bahwa sektor pariwisata adalah multisektoral dan multi-efek. Oleh karena itu segala permasalahan sektor ini tidak dapat berdiri sendiri atau instansional, melainkan harus lintas sektoral, sebab hakekat kegiatan pariwisata yang sebenarnya adalah kegiatan lintas budaya, wilayah, lintas ras bahkan agama. Dengan adanya pemahaman yang demikian tersebut akan memudahkan untuk duduk dalam satu lingkaran untuk membahas peluang dan tantangan di Era Otonomi Daerah.
Semoga Kabupaten Pemalang dapat lebih arif dalam menyikapi persoalan yang timbul di seputar dunia pariwisata.
Semoga bermanfaat.

Jumat, 04 April 2008

UKM Kapan Deritamu Berakhir

BLBI 600 Trilyun Belum Kembali!!!! Why?

Indonesia memang negara yang LUAR BIASA kalau dilihat dari Kemiskinan. Program Pemerintahnya jelas yaitu PEMENTASAN KEMISKINAN bukan Pengentasan Kemiskinan.

Ini aku tulis karena akumulatif kekecewaan yang luar biasa dan tiba - tiba meledak saat aku surfing. So hanya itu yang dapat aku tulis, karena perjuanganku dengan teman - teman UKM (Usaha Kecil Menengah) selalu DIKEBIRI.

Terima kasih kepada semua Birokrat yang turut andil meruntuhlantakan UKM

Don't Destroy Our Country by Corruption!!!

Minggu, 23 Maret 2008


Ketika Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) terbentuk berdasarkan UU No 13 tahun 2003, banyak orang terperangah. Kenapa? Karena akhirnya kita sadar bahwa kompetensi profesi dari pekerja kita sangat rendah, yang disebabkan standar kompetensi kerja yang tidak mengacu pada ILO. Dan lagi - lagi Pemerintah mengeluarkan SKKNI, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Banyak instansi / perusahaan yang belum tahu apa itu SKKNI, apalagi dunia pendidikan dan pelatihan kerja. Maka tidak kurang dari Dirjen Latihan dan Produktifitas Depnaketrnas RI mengalirkan dana Perbantuan ke tingkat propinsi, dan SKKNI disosialisasikan kepada seluruh jajaran Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi di Propinsi dan Kabupaten/Kota. Namun sayangnya yang tersentuh sosialisasi baru lembaga - lembaga pelatihan kerja saja. Hal ini menjadikan sosialisasi SKKNI kurang bergema. Hal serupa juga terjadi pada sosialisasi Sertifikasi Profesi. Sertifikat Profesi, yang merupakan sebuah bukti profesional atau tidaknya seseorang dalam sebuah pekerjaan menjadi rancu pada tataran pelaksanaan tehnis, paling parah terjadi (lagi-lagi) di dunia pendidikan. Untuk memeperoleh sebuah sertifikat profesi, guru tidak wajib mengikuti uji sertifikasi, tapi cukup mengikuti seminar - seminar pendidikan, baik itu tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi ataupun Nasional. Maka tidak mengherankan apabila sekarang ini menjamur seminar - seminar sehari yang khusus diselenggarkan untuk para guru, bahkan ada yang menarik biaya jutaan rupiah! Wow.

Sabtu, 08 Maret 2008

Pelatihan-Pelatihan Yang Saya Ajarkan

Pelatihan Pengolahan Hasil Ternak Pelatihan Bahasa Inggris

Pelatihan Motivasi

Jumat, 07 Maret 2008

AMT sebuah Pelatihan Untuk Menuju Sukses

AMT (Achievement Motivation Training) atau Pelatihan Motivasi Prestasi adalah sebuah pelatihan motivasi yang dirancang oleh Prof. Dr. David Mc. Clellend dari Oxford University, sebelum mendapatkan metode pelatihan ini David Mc. Clellend telah melakukan riset selama 25 tahun yaitu dari tahun 1940 - 1965. Dari hasil riset tersebut didapatkan bahwa dalam satu stimulus tertentu kecenderungan manusia bertindak sangat bergantung pada stimulus di luar dirinya.
Materi - Materi yang diajarkan di AMT sangat menarik, antara lain, Business Games, Ball Throwing, Questioner, dan lain sebagainya. Pada dasarnya manusia dibedakan berdasarkan kebutuhannya menjadi 5 golongan, yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan aman, kebutuhan pergaulan, kebutuhan kehormatan dan kebutuhan berprestasi. Dengan metode yang sedemikian rupa dan menarik AMT membedah permasalahan yang ada pada diri tiap manusia.
Bagi anda yang tertarik untuk melaksanakan AMT bagi anda, teman anda maupun pwgawai dan anggota organisasi anda, hubungi segera:
Jl. Jend. Sudirman Timur Pemalang Telp. (0284) 580 1565

Selasa, 26 Februari 2008

Sekilas Tentang Saya

Nama saya Setya Teguh Yuwana, biasa dipanggil Teguh. Saya lahir 39 tahun yang lalu. Pekerjaan saya adalah konsultan di bidang Manajemen Pariwisata khususnya bidang Perhotelan dan Bahasa Inggris.
Alamat saya : Jl. Mentawai XII No 142 B Perumahan Bojongbata Pemalang

Pengalaman Organisasi saya adalah :
  1. Ketua BPC PHRI Kabupaten Pemalang

  2. Ketua DPC HILLSI Kabupaten Pemalang

  3. Wakil Ketua Apindo Kabupaten Pemalang

  4. Anggota Dewan Pengupahan Kabupaten Pemalang

Sebagai seorang konsultan saya telah memberikan konsultasi ke banyak client a.l:

  1. Tim Penggerak PKK Kab. Pemalang --- Pelatihan Table Manner

  2. SMK Pariwisata Liberty Pemalang --- Penyusunan Kurikulum Implementasi untukProgram Keahlian Akomodasi Perhotelan

  3. SMK Bima Pemalang --- Pelatihan Strategi Penjualan Jitu

  4. SMA Negeri 1 Pemalang --- Pelatihan International Attitude & Table Manner

  5. SMA Negeri 2 Pemalang --- Pelatihan International Attitude & Table Manner

  6. SMA Negeri 3 Pemalang --- Pelatihan International Attitude & Table Manner

  7. Hotel Jaya Dipa Pekalongan --- Pelatihan Hotel Operation and Manajemen

  8. Cotel Bumijawa Tegal ---- Pelatihan Hotel Operation